Terapi skizofrenia (sumber MIMS)

Skizofrenia (1 dari 19)

Skizofrenia (2 dari 19)

Skizofrenia merupakan peyimpangan penyakit mental yang ditandai dengan gejala-gejala seperti halusinasi, pikiran disorganisasi, hampa tujuan yang mengarah ke perilaku dan penurunan fungsi peran sosial.

1. Tanda-tanda dan gejala-gejala:
- Waham
- Halusinasi
- Persepsi yang salah
Gejala negative
- Respon emosional yg menumpul atau tidak wajar
- Kurang motivasi atau energi
- Hilangnya minat
- Bicara yang jarang
Gejala-gejala disorganisasi
- Pikiran tak terarah dan bicara disorganisasi
- Perilaku disorganisasi
Gejala kognitif
- Penurunan perhatian, kelancaran bicara, daya ingat, fungsi penting.

2. Diagnosis
Pasien harus melewati beberapa tahap pengamatan, sebagai berikut :
- Mengisi riwayat medis umum dan psikiatri dengan lengkap.
- Pemeriksaan status fisik dan mental.
- Wawancara dengan anggota keluarga atau kerabat terdekat.
- Pemeriksaan neurology.
- Pemeriksaan urin untuk mengetahui penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan.
- Pemeriksaan darah untuk pengobatan antipsikotik.
- Laboratorum: Pemeriksaan darah lengkap, elektrolit darah, glukosa dan liver, ginjal dan fungsi tiroid.
- Bila diperlukan: Tes HIV (Human Immunodeficiency Virus), Test sifilis
Kriteria diagnosis saat ini mencakup gejala-gejala, disfungsi dalam sosial dan hubungan pekerjaan, & durasi, dan pikirkan kemungkinan skizoafektif dan gangguan mood.

skizofrenia didiagnosis apabila terdapat waham atau halusinasi sedikitnya selama 1 bulan, dan bila ditemukan gangguan perkembangan juga dipakai sebagai pertimbangan

Skizofrenia (3 dari 19)

Skizofrenia (4 dari 19)

Skizofrenia (5 dari 19)

Skizofrenia (6 dari 19)
Penanganan gejala-gejala yg coexisting

Skizofrenia (7 dari 19)
A. Penanganan non-farmakologi
Penanganan Fase Akut
Pengaturan terapi
- Pengobatan rawat inap diindikasikan apabila pasien memiliki ancaman yang serius untuk membahayakan diri dan orang lain, tidak mampu menjaga diri dan tetap membutuhkan pengawasan
Managemen psikiatri
- Tujuan :
- Mencegah menjadi lebih buruk, mengkontrol perilaku kacau, menekan gejala-gejala & mengembalikan fungsi ke tingkat yang paling baik.
- Melaksanakan terapi dengan dukungan pasien dan keluarga pasien
- Mendidik pasien (membuat mereka menjadi lebih faham) & keluarga pasien mengenai
penyakitnya.
- Menetapkan rencana terapi jangka pendek dan jangka panjang.
Peran serta psikososial
Tujuan:
- Mengurangi penyakit menjadi lebih parah dengan memberikan contoh, komunikasi yang jelas dan harapan
- Membantu menyediakan struktur dan lingkungan yang diharapkan
- Membantu agar terbangunnya dukungan dengan hubungan antara pasien dan tim yang memberikan pengobatan
Fase stabilisasi
Managemen psikiatri
- Tujuan:
Meminimalkan tekanan yang dialami pasien & memberikan dukungan untuk meminimalkan terjadinya kekambuhan.
- Membimbing pasien untuk dapat hidup beradaptasi dalam lingkungannya
- Membantu untuk mengatasi dengan mengurangi efek samping dan membantu terjadinya remisi
- Melanjutkan pemberian edukasi pada pasien saat gejala penyakit datang dan hasil dari terapinya
- Menjelaskan pentingnya minum obat dengan mengedukasi pasien dan keluarganya mengenai kemungkinan terjadinya kekambuhan bila pengobatan tidak dilanjutkan
Peran serta psikososial
Psikoedukasi
Memulai peran serta masyarakat
- Terapi dg peran serta masyarakat
- Rehabilitasi misalnya pelatihan cara bersosialiasi, terapi kognitif dan perilaku
- Pasien membentuk kelompok bagaimana cara untuk membantu diri sendiri secara mandiri, perkumpulan bagaimana cara memperlakukan diri dan perkumpulan para kerabat (dibentuk oleh orang tua pasien)
Terapi individual
- Dukungan dan orientasi tilikan
- Pendekatan individual berdasarkan kondisi klinik, mencetak kemampuan dan preference
Peran serta keluarga
- Mengikutsertakan keluarga dalam rencana terapi, mencapai tujuan dan pelayanan
- Menyediakan bimbingan, dukungan, petunjuk dan pelatihan untuk membina keluarga memenuhi peran mereka sebagai caregivers
- Dukungan kelompok untuk keluarga seharusnya dianjurkan
Terapi kelompok
- psikoterapi dan dukungan kelompok membantu kelangsungan penyelesaian masalah, rencana
tujuan, interaksi sosial dan efek samping pengobatan

Skizofrenia (8 dari 19)
B. Farmakoterapi
Prinsip terapi umum
- Pemilihan agen berdasarkan efek samping, riwayat respon pada pasien dan anggota keluarga yang dihasilkan sebelumnya, pilihan pasien, dan harga.
- Memaksimalkan keuntungan dari farmakoterapi dan meminimalkan efek samping.
- Monoterapi lebih disukai dan polifarmasi seharusnya dihindari
- Antipsikotik tetap dipakai pada pemberian terapi skizofrenia
Antpsikotik atipikal
- Antipsikotik atipikal sekarang lebih dipilih dari antipsikotik konvensional
- Efek : Sudah ditemukan untuk menjadi antipsikotik yang utama untuk menangani gejala psikotik dan pikiran disorganisasi
- Semuanya memiliki efek samping EPS lebih ringan daripada antipsikotik konvensional
- Beberapa memiliki efek utama pada gejala negatif daripada obat antipsikotik konvensional
Amisulpiride
- Digunakan untuk mendapatkan keuntungan dari gejala negatif pada dosis yang rendah dan pada dosis yang tinggi dapat lebih efektif mengatasi gejala positif
- Memiliki efek samping yang diinginkan, tetapi dapat menyebabkan hiperprolaktinemia dan dosis tinggi dapat menyebabkan risiko kejadian EPS
Aripiprazole
- Digunakan keefektivannya seperti haloperidol pada terapi skizofrenia
- EPS berhubungan dengan efek samping yang telihat pada perbandingan plasebo
- Memiliki risiko insomnia yang tinggi dibandingkan dengan antipsikotik konvensional, tetapi lebih ringan risiko untuk meningktakan prolaktin & pemanjangan interval QTc daripada atipikal lainnya.
Clozapine
Telah menunjukan manfaat pada pasien yang tidak respon dengan antipsikotik konvensional
- Hati-hati penggunaan pada pasien dengan perilaku yang aggresif
- Tidak menyebabkan efek EPS, dapat berguna pada pasien yang tidak dapat toleransi dengan antipsikotik lainnya karena EPS atau efek tardive diskinesia yang mereka alami.
- Clozapine menyebabkan agranulositosis pada sekitar 1% pasien
Dibutuhkan untuk memonitor sel darah putih
Olanzapine
- Setidaknya efektifnya seperti antipsikotik konvensional
- Biasanya dapat ditoleransi dengan baik dan tidak menyebabkan efek EPS pada dosis terapi
Efek samping yang utama adalah peningkatan berat badan, hiperlipidemia sebagai bagian dari
sindrom metabolik dan hiperglikemia
Quetiapine
- Setidaknya efektifnya seperti antipsikotik konvensional pada pengobatan skizofrenia
- Sangat jarang menyebabkan EPS pada berbagai macam pemberian dosis
- Hipotensi ortostastik dapat terjadi menjelang periode pemberian awal dan pada dosis tinggi
Risperidone
- Setidaknya efektif seperti antipsikotik konvensional
- Ketika menggunakan dosis yang dianjurkan (<6mg/hari), dosis demikian sangat rendah kemungkinan untuk menyebabkan EPS.
- Dosis tinggi meningkatkan risiko EPS
- Hiperprolaktinemia dan hipotensi postural juga dapat terjadi
Ziprasidone
- Setidaknya efektif seperti antipsikotik konvensional
Telah menunjukan efek manfaat pada gejala sindrom depresi
- Bila diserta dengan pemanjangan interval QTc perlu disesuaikan berdasarkan terapi dan efek samping

Skizofrenia (9 dari 19)
Antipsikotik atipikal
- Semua antipsikotik pada kelas ini bermacam-macam dalam kekuatannya & efek samping, tetapi memiliki persamaan kegunaannya.
- Efek:Pasien menunjukan pengurangan gejala positif, pikiran terganggu, emosi tumpul, retardasi , perilaku autism (menyendiri), withdrawal.
- 60% pasien yang diterapi selama 6 minggu dengan antipsikotik konvensional mencapai remisi sempurna atau mengalami gejala ringan saja.
– Semua antipsikotik konvensional dapat menyebabkan efek samping yang luas karena efeknya
pada reseptor lainnya daripada target terapi termasuk EPS dan tardif diskinesia
Rute perjalanan
Oral
- Tipikal digunakan untuk akut dan terapi pemeliharaan.
- Reaches peak con in waktu 2-3 jam memberikan efek tenang.
Jangka pendek-IM
- Onset cepat adalah keuntungan ketika efek tenang diperlukan untuk mengatasi agitasi
- Konsentrasi yang sempit mencapai 30-60 menit setelah perjalanan
Depot formulations
- Direkomendasikan untuk pasien yang memiliki kesulitan dalam pengobatan oral, bagi yang tidak menyadari dirinya sakit atau tilikannya buruk atau yang lebih memilih depot
- Jumlah terbatas untuk antipsikotik atipikal dan konvensional disediakan dalam bentuk depot
- Dianjurkan 3-6bulan untuk mencapai efek maksimal maka dari itu jarana digunakan sendiri saat terapi akut ketika dosis perlu disesuaikan berdasarkan terapi dan efek samping.

C. Farmakoterapi tambahan dan farmakoterapi untuk reaksi dari antipsikotik
Pengobatan tambahan
Selama penggunaan antipsikotik mungkin perlu digunakan pemberian obat tambahan
- Tambahan (agen antikolinergik) dapat digunakan untuk mengatasi efek samping dikarenakan antipsikotik
- Tambahan lainnya dapat digunakan untuk mengatasi gejala psikotik yang refrakter, komorbid atau gejala nonpsikotik seperti agitasi, kecemasan dan depresi
Agen antikolinergik
- Efek : efektif mengatasi EPS karena antipsikotik konvensional
- Dapat ditambahkan dengan antipsikotik untuk mengatasi akathisia, EPS atau pengeluaran saliva yang diakibatkan Clozapine
Mood stabilizer
Lithium
- Digunakan untuk menstabilkan mood dan mengurangi kegelisahan pada pasien yang diterapi dengan antipsikotik
- Efek: menunjukan augment respon antipsikotik ketika ditambahkan pada pengobatan antipsikotik konvensional.
Valproate & Carbamazepine
- Efek: meningkatkan mood & membantu menurunkan agitasi persisten pada skizofrenia
Benzodiazepine
- Efek: biasanya digunakan pada penatalaksanaan fase akut
- Efek : mengatasi agitasi, insomnia, kecemasan ,akatisia, dan other concomitans dari skizofrenia
Beta-bloker
- Efek : mengatasi akatisia yang diakibatkan antipsikotik konvensional
Antidepresan
- Gejala-gejala depresif biasanya diatasi setelah mengatasi psikosis akut dengan antipsikosis
- Penggunaan antidepresan dengan peringatan pada fase akut penyakit sejak terjadi serangan gejala psikotik
Efek: efektiv mengatasi gejala sisa depresi (post psikotik)

Skizofrenia (10 dari 19)
Antispsikotik atipikal
Obat Dosis Peringatan
Benzamides
Amisulpiride 400-800mg/hari divided bid
Dosis maksimal:1200 mg/hari
Untuk pasien dengan gejala negative predominan : 50-300 mg PO sekali sehari
Adverse reactions
- Sama spt chlorpromazine ,lihat hal 15
- Gg tidur,agitasi,overstimulasi, efek GIT (jarang terjadi),hiperprolaktinemia
- apabila EPS terjadi biasanya ringan;pada terapi jangka panjang pernah dilaporkan terjadi tardive diskinesia
- jarang menyebabkan sedasi & hipotensi. Efek antimuscarinik minimal .
Instruksi khusus
- Sama seperti chlorpromazine, lihat halaman 15
Clozapine Dosis awal:
Hari ke-1: 12,5 mg PO 1x/hari
Hari ke-2: 25-50 mg/hari PO
Meningkatkan dosis pada 25-50 mg peningkatan lebih dari : 300-450 mg/hari PO odid terbagi dalam 14-21 hari.

Bila dibutuhkan, dapat ditingkatkan sampai 50-100mg dalam seminggu 1-2x

Dosis maksimal:
900mg/hari
Repon terapi pertama kali tercapaii, maka dikurangi secara bertahap:

Dosis pemeliharaan :
200-450 mg/hari PO Adverse reactions
- Sama seperti chlorpromazine, lihat halaman 15
- Granulositopenia&agranulositosis dengan kasus banyak terjadi dalam jangka waktu 1 s.d 18 minggu saat terapi. Perlu dimonitor sel darah putih
- Fatigue, drowsiness,sedasi,dizziness,headache, mulut kering, hypersalivasi, penurunan ambang kejang,takikardi, hipotensi orthostatik, perubahan ECG, hipertensi, hipotensi,synkop, konstipasi,peningkatan berat badan ,diare,perut merasa tidak nyaman,N/V
- EPS mencakup tardiv diskinesia jarang terjadi, efeknya kecil terhadap sekresi prolaktin.
Instruksi khusus
- Sebelum memulai Clozapine , perbandingan sel datah putih (White Blood Cell) ,hanya pasien dengan normal sel darah putih ≥3500/mm3& Absolute Neutrofil Count (ANC) ≥2200/mm3 seharusnya mendapatkan pengobatan.
- WBC&ANC perlu dimonitor tiap minggu pada minggu ke1 s.d 18.selanjutnya tiap bulan.Hentikan pengobatan bila WBC <3000/mm3 atau ANC 50 yr seharusnya diberikan secara berbaring saat menerima pengobatan untuk mengurangi resiko hipotensi postural.
Perisiazin Dosis inisial : 75 mg/hari PO dalam dosis terbagi.
Dosis dapat ditingkatkan sesuai dengan kondisi pasien, 25 mg interval mingguan.
Dosis maksimal : 300 mg/hari. Efek samping
-sama seperti chlorpromazine.
- sering terjadi sedasi dan hipotensi ortostatik.

Instruksi penting
-sama seperti chlorpromazine.

Skizofrenia 17/19
ANTIPSIKOTIK KONVENSIONAL (LANJUTAN)
Nama obat Dosis Catatan
Fenotiazin (lanjutan)
Perfenazin Dosis inisisal : 2-8 mg PO tid
Dosis disesuaikan dengan pasien sampai dengan :
8-64 mg/hari PO dibagi bid-tid
Dosis maksimal : 24 mg/hari pada pasien rawat jalan dan 64 mg/hari pada pasien yang dirawat. Efek samping
-sama seperti chlorpromazine.
- jarang menyebabkan sedasi disbanding chlorpromazine. Tetapi sering menyebabkan EPS.

Instruksi penting
-sama seperti chlorpromazine.

Proklorperazin Dosis inisial : 5-10 mg PO tid-qid.
Dosis dapat ditingkatkan sesuai dengan respon pasien sampai dengan 75-100 mg/hari PO
Beberapa pasien mungkin menggunakan dosis lebih kecil : 25-50 mg/hari PO
IM kerja cepat : 12.5-25 mg IM setiap 8-12 jam. Efek samping
-sama seperti chlorpromazine.
- jarang menyebabkan sedasi tetapi sering menyebabkan EPS

Instruksi penting
-sama seperti chlorpromazine.

Tioridazin Dosis pemeliharaan untuk pasien rawat jalan : 50-300 mg/hari PO dalam dosis terbagi.
Dosis perawatan untuk pasien rawat inap : 100-600 mg/hari PO dalam dosis terbagi.
Dosis maksimal : 800 mg/hari. Efek samping
-sama seperti chlorpromazine.
- jarang menyebabkan sedasi dan EPS
-efek antimuskarinik, hipotensi, cardiotoksisitas, prolongasi QT interval, disfungsi seksual dan banyak lagi.
-aritmia
- pada pasien dengan dosis tinggi observasi akan terjadinya retinopati pigmentasi.

Instruksi penting
-sama seperti chlorpromazine.
- batasi penggunaan pada pasien yang gagal terapi dengan antipsikotik lain.
- mulai dengan dosis rendah dan tingkatkan perlahan.
- hindari penggunaan pada kelainan jantung, hipokalemi & ketidakseimbangan elektrolit, prolongasi QT, riwayat aritmia.
- monitor ECG & elektrolit selama pengobatan.
- monitor ECG sebelum dosis ditingkatkan, 1 minggu setelah dosis maksimal& 6 bulan interval.
- monitor serum elektrolit selama pengobatan dan secara periodic.

Skizofrenia 18/19
ANTIPSIKOTIK KONVENSIONAL (LANJUTAN)
Nama obat Dosis Catatan
Fenotiazin
Trifluoperazine Dosis inisial : 2-5 mg PO bid
Dosis dapat dinaikkan secara bertahap disesuaikan dengan respon pasien sampai 15-20 mg/hari PO
Dosis maksimal : 40 mg/hari PO Efek samping
- sama seperti chlorpromazine
- jarang menyebabkan sedasi, hipotensi, hipotermi, atau efek antimuskarinik tetapi sering menyebabkan EPS (terutama jika dosis >6 mg/hari.

Instruksi penting
- sama seperti chlorpromazine.

Tioxantin
chlorprotixin 50-100 mg/ hari PO
Dosis dapat ditingkatkan sesuai dengan respon pasien sampai dengan :
Dosis pemeliharaan : 100-200 mg/ hari PO.
Efek samping
-sama seperti chlorpromazine.

Instruksi penting
-sama seperti chlorpromazine.
Flupentixol 3-15 mg/hari PO bid-tid
Dosis dapat ditingkatkan disesuaikan dengan respon pasien sampai dengan :
Dosis maksimal : 40 mg/ hari
Depot formula :
Dosis tes inisial : 10 mg IM sebagai dosis tunggal
Setelah ≥ 7 hari, jika ditoleransi dengan baik, ikuti dengan 20-40 mg IM setiap 2-4 minggu rentang waktu mungkin berbeda setiap individu. Efek samping
-sama seperti chlorpromazine.
- jarang menyebabkan sedasi tetapi sering menyebabkan EPS.

Instruksi penting
-sama seperti chlorpromazine.
- tidak dianjurkan pada pasien dengan ktifitas berlebih termasuk mania.
Tiotixin Dosis inisial : 2 mg PO tid atau 5 mg PO bid
Dosis dapat ditingkatkan secara bertahap disesuaikan dengan respon pasien sampai 20-30 mg/hari PO
Dosis maksimal : 60 mg/hari.
IM kerja cepat : 4 mg IM bid-qid atau disesuaikan.
Dosis maksimal : 30 mg/hari Efek samping
-sama seperti chlorpromazine.

Instruksi penting
-sama seperti chlorpromazine.

Skizofrenia 19/19
ANTIPSIKOTIK KONVENSIONAL (LANJUTAN)
Nama obat Dosis Catatan
Tioxantin (lanjutan)
Zuclopentixol 10-50 mg/hari PO
Dapat ditingkatkan sampai 75 mg/hari PO atau lebih.
Dosis pemeliharaan : 20-40 mg/hari PO.
Zuclopentixol asetat :
Digunakan untuk psikosis akut dan eksasrebasi psikosis kronik.
Dosis inisial : 50-150 mg IM dapat diulang setiap 2-3 hari.
Beberapa pasien mungkin membutuhkan injeksi tambahan pada 24-48 jam setelah suntikan yang pertama.
Selama pengobatan tidak lebih dari 4 dosis yang diberikan.
Dosis maksimal : 400 mg/perjalanan pengobatan. Untuk pemeliharaan dapat mengikuti dosis oral 2-3 hari setelah injeksi IM terakhir.
Depot formula :
Dosis inisial :200-400 mg IM setiap 2-4 minggu. Efek samping
- sama seperti chlorpromazine.
- Jarang menyebabkan sedasi.

Instruksi penting
- sama seperti chlorpromazine.
- hindari pada pasien yang apathetic atau withdrawn states.
Antipsikotik lainnya
Clotiapin 120-200 mg/hari terbagi bid-tid Efek samping
- sama seperti chlorpromazine

Instruksi penting
- sama sperti chlorpromazine

3 Responses to “Terapi skizofrenia (sumber MIMS)”

  1. iphie265 Says:

    kalo ada yang membutuhkan bahannya/ralat kalo ada kesalahan/saran kirim email ke iphie265@yahoo.com.terima kasih

  2. rahmamoonly Says:

    bahannya bagus bgt…bisa minta bahan2 obatnya???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: