Archive for May, 2010

Ulkus Kornea Perforasi

May 15, 2010

Dear the docter who examine me before,,,why u so dare give me the mark smallest than other,,dont u know i spent my whole night ,, but thanks Allah my heart not hurted anymore,,,i tried to do my best,,.i try to answer for the questions,,but all nothing,,why only see from one side,,,at least im enjoyed to make this ,,i dedicated this for my patient,,, >.> monosit
Limfosit  radang kronis
Eosinoifil  radang alergi
Terapi :
Natamycin
Natacen (aspergilus)
Solmazol (candida)
Injeksi conjungtiva Terapi :
Gol quinolon
(tiap 15’ kalo mengancam perforasi)

Vitamin A
Air mata buatan

Sekitar 1 mingguan setelah kejadian, pasien mengatakan dimatanya tampak ada sesuatu yang berbentuk tidak beraturan, berwarna putih kecil, letaknya ditepi, putih-putihnya semakin hari semakin membesar menjalar menutupi seluruh permukaan warna hitam di mata kanannya. Keluhan juga disertai dengan kotoran cair, gatal, mata berair, dan mata kanan pasien tidak dapat melihat normal hanya dapat melihat saat gelap dan terang, nyeri dan terasa pegal terutama saat terkena sinar matahari.
Ulkus jamur Ulkus bakteri Ulkus virus
Ulkus tidak beraturan
Kotor
Endotelial plaq
Putih keabuan
Lesi satelit
Furtheral aid
Hipopion tidak rata
Batas tidak tegas
Lokasi marginal Ulkus beraturan
Lebih bersih

Hipopion rata
Batas tegas
Lokasi sentral Dendritik
Geografik
Jadi banyak
Natamycin eye drop
Natacen salep (asperg)
Solmazol Cendofenikol
Gentamycin
Mycetin
Air mata buatan
Vitamin A (Cendo lytre dan Cendo fresh) Acyclovir – oral, salep

Sekitar 2 mingguan setelah kejadian, pasien mengatakan putih-putih dimatanya semakin meluas, menutupi hampir seluruh permukaan warna hitam di mata kanannya. Keluhan juga disertai keluar cairan dari mata, nyeri pada mata dirasakan hilang timbul, dan kelopak mata menjadi bengkak. Keluhan tidak disertai nyeri saat menggerakan bola matanya dan demam disangkal pasien, rasa nyeri yang hebat menjalar ke kepala , mual dan muntah.
Anamnesis ini mau diarahkan bahwa ulkus korneanya sudah mengarah ke komplikasi yaitu ,,,perforasi,,,dan diagnosis banding dengan ,,terjadinya Glaukoma sekunder dan endoftalmitis (lebih dalam lagi),,,
 Pada pasien ini ulkus kornea dapat terjadi perforasi ,,perforasi cairan CoA dapat mengalir ke luar iris ,,(TIOnya bisa menurun ,,) dan iris mengikuti gerakan ini ke depan sehingga iris melekat pada luka kornea yang perforasi dan disebut iris prolaps yang menyumbat fistel (saat tersumbat ,,TIOnya meningkat,,dan hasil tes fistel harusnya (+),,pada pemeriksaan adanya fistel pada ulkus korea ,,setelah pemberian fluoroscein bola mata harus ditekan sedikit untuk untuk melepaskan fibrin dari fistel sehingga cairan CoA dapat mengalir keluar melalui fistel seperti air mancur ,,pada tempat ulkus dengan fistel tersebut,,))
 Kejadian ini berulang-ulang dari keluhan akan dirasakan nyeri,,,bahkan bisa nyeri hebat menjalar ke kepala karena itu sebagai tanda ke arah Glaukoma sekunder ,,,terjadi peningkatan TIO karena peradangan uveitis anterior ,,sehingga tersumbatnya trabekulum oleh sel2 radang yang terdapat di CoA,,
 namun pada tempat perforasi kornea dan iris prolaps daat terjadi jaringan parut , maka disebut leukoma adherens dimana pada tempat tersebut terjadi penyempitan sudut CoA oleh adanya sinekia anterior menyebabkan aliran balik cairan di sudut CoA menjadi terganggu , yang dapat menyebabakn timbulnya peninggian tekanan intraokular dan menjadi glaukoma sekunder ,,,
leukoma adherens tidak kuat , adanya glaukoma sekunder tidak kuat , adanya glaukoma sekunder dapat menyebabkan menonjolnya leukoma tersebut yang disebut stafiloma kornea yang tampak seperti anggur,,
(tapi pada pasien ini belum terjadi glaukoma sekunder,,,dari keluhan yang tidak sampai nyeri hebat ke kepala belakang, mual, muntah , pem.of : TIO tidak meningkat ,,,kornea  edema (-) , tidak menonjol (tidak kearah stafiloma ) ,,tapi tampak adanya leukoma adherens ,,,sikatrik berwarna putih seperti porselen) ..
Uveitis
non granulomatosis Glaukoma sekunder Endoftalmitis
Peradangan pada traktus uvealis ,,umunya tidak ditemukan bakteri patogen dan karena
berespon baik terhadap terapi kortikosteroid Peningkatan TIO yg tjd sebagai salah satu manifestasi penyakit mata lain
Terapi :
Analgetika sistemik secukupnya untuk rasa sakit, dan kacamata gelap untuk fotofobia. Pupil harus tetap dilebarkan . Kesanggupan atropin untuk menghilangkan spasme siliaris tdk ada bandingnya . Sekali sudah reda , terapi dilanjutkan dengan dilatator kerja singkat seperti cyclopentolate untuk mencegah spasme dan terbentuknya sinekia posterior. Tetes steroid lokal biasnya cukup efektif untuk kerja antiradanya pada kasus berat dan tidak responsif, dapat diberikan suntikan steroid periokuler dan kadang-kadang sekali bahkan steroid sistemik.
Penanganan komplikasi :
Glaukoma adalah komplikasi yang umum. Terapi terhadap uveitis sangat penting, khususnya melebarkan pupil dengan atropin (bukan mengecilkan , seperti pada glaukoma Terapi : berupa pengontrolan TIO dgn cara medis maupun bedah , tetapi juga mengatasi penyakit yg mendasari apabila mungkin
Pada pasien ini , yang mendukung ,,,
Anamnesis : onsetnya khas akut, dengan rasa sakit, injeksi, fotofobia, dan penglihatan kabur . Terdapat kemerahan sirkumkorneal yang disebabkan dilatasi pembuluh-pembuluh limbus.
Yang menyingkirkan  tidak ditemukan seperti yg didapat pd uveitis :
Anam : riwayata Tb (-), Artritis (-) , Tokso (-)
P.Of: deposit putih halus (presipitat keratik “”KP’’) pada permukaan posterior kornea dapat dilihat dengan
slitlamp atau dengan kaca pembesar (-)
pupilnya kecil dan mungkin terdapat kumpulan fibrin dengan sel di kamera anterior(-) , Jika terdapat pupil tidak teratur menunjukan adanya sinekia posterior.
Komplikasi dan sekuele
Uveitis anterior dapat menimbulkan synekia anterior perifer , yang menghalangi humor aquos keluar di sudut kamera anterior dan berakibat glaukoma dengan memungkinkan berkumpulnya humor aquos dibelakang iris , sehingga menonjolkan iris ke depan . Pelebaran pupil sejak dini dan terus menerus mengurangi kemungkinan timbulnya sinekia posterior … Pada pasien ini bisa disebabkan Glaukoma akibat kelainan traktus uvealis,
Pada uveitis tekanan intraokular biasanya lebih rendah darpada normal karena corpus siliare yang meradang kurang berfungsi dengan baik. Jalinan trabekukar dapat tersumbat oleh sel-sel radang dari CoA ,,disertai edema sekunder,,atau kadang-kadang dalam proses peradangan secara spesifik diarahkan ke sel-sel trabekula (trabekulitis),,Uveitis kronik atau rekuren menyebabkan gangguan permanen fungsi trabekula , sinekia anterior perifer dan kadang-kadang neovaskularisasi sudut , yang semuanya meningkatkan glaukoma sekunder . Seklusi pupil akibat sinekia posterior 360 derajad menyebabkan iris bombe dan glaukoma sudut tertutup akut,,,
Terapi terutama ditujukan kepada pengontrolan uveitis disertai pemberian terapi glaukoma sesuai keperluan, dan menghindari miotik karena dapat meningkatkan kemungkinan pembentukan sinekia posterior. Terapi jangka panjang , termasuk tindakan bedah , sering perlu dilakukan karena kerusakan jalinan trabekula yang ireversibel.
Penutupan sudut akut akibat penutupan pupil dapat dipulihkan oleh midriasis intensif tetapi sering memerlukan iridektomi perifer dengan laser atau iridektomi bedah
Penutupan sudut akut akibat penutupan pupil dapat dipulihkan oleh midriasis intensif tetapi sering memerlukan iridotomi perifer dengan laser atau iridektomi bedah. Setiap uveitis dengan kecendringan pembentukan sinekia posterior harus diterapi dengan midriatikum sewaktu uveitisnya aktif untuk mengurangi risiko penutupan pupil.
Px dengan :
Cara digital
tonometri Schiotz
Gonioskopi Px dengan :
Gonioskopi

Riwayat pengobatan : pasien sempat berobat ke mantri dan diberi obat tetes mata dan obat yang diminum
 Kemungkinan ulkus bisa dicetuskan karena penggunaan kortikosteroid yang bisa terdapat dalam xitrol,,kita curigai apakah pasien pernah dibeikan obat dgn kandungan kortikosteroid 
 Efek kortikosteroid :
- Dapat mengendalikan respon peradangan yang merusak
- Memberi peluang terjadinya replikasi virus,,,jadi kalau diduga penyebab ada karena virus harus disertai dengan antivirus
- Dapat mempermudah perlunakan kornea  sehingga meningkatkan risiko perforasi kornea
- Mempersingkat perjalanan penyakit , mengurangi gejala yang sering hebat
- Steroid dapat mengganggu mitosis epitel
- Efek plasebo menyamarkan penyakit
- Menumbuhkan jamur pada pasien DM
- Dapat menyebabkan gangguan mekanisme pertahanan
- Perubahan struktus kornea
. Riwayat memelihara hewan peliharaan seperti kucing disangkal oleh pasien.
 Kalo memelihara  maka indikasi chex Ig G dan Ig M tokso  untuk mengarah apakah ada dasar utk mengarah uveitis
• Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit serupa, DM, Alergi, sering nyeri sendi, batuk lama, gangguan pada gigi dan telinga disangkal.
 Pasien DM diberi steroid bisa tumbuh jamur
• Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit serupa disangkal
III. PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Generalis
• Keadaan Umum : Sedang…………………………………………….
• Kesadaran : Compos mentis…………………………………
• Tanda Vital : ……………………………………………………….
 Tekanan darah : 120/70 mmHg………………………………….
 Nadi : 82x / menit ……………………………………..
 Suhu : 36,5 °C…………………………………………….
 Frekuensi Pernapasan : 20 kali/menit…………………………………….
 Berat badan : 51 kg………………………………………………
 Biasanya ulkus timbul pada orang-orang dengan keadaan umum yang kurang dari normal, pada pasien ini perawakannya kurus ,,maka keadaan umunya harus diperbaiki dengan makanan yang bergizi , udara yang baik, lingkungan yang sehat, pemberian roboransia yang mengandung A.B kompleks dan C
• Kepala : Normocephal……………………………………
• Mata : (lihat status oftalmologi)…………………..
• Telinga Hidung Tenggorok : tidak ada kelainan…………………………….
• Gigi Geligi : tidak ada kelainan…………………………….
• Leher : tidak teraba pembesaran kgb………………
• Toraks dan Abdomen : tidak ada kelainan…………………………….
• Ekstremitas : tidak ada kelainan……………………………..
IV. Status optalmologi
OD
Gerakan
Sejajar ke segala arah

1/tak terhingga, proyeksi baik ke segala arah
Normal per palpasi
Normal, tumbuh teratur, madarosis (-)
sikatriks (-)
Normal,
tumbuh teratur,
trikiasis (-)
Udem (+),
hiperemis (+),
hordeolum (-),
kalazion (-),
blefarospasme (+),
ektropion (-),
entropion (-),
ptosis (-),
lagoftalmus (-)
Udem (+),
hiperemis (+),
Sekret (+) purulen,
hordeolum (-),
kalazion (-),
blefarospasme (+),
ektropion (-),
entropion (-),
ptosis (-),
lagoftalmus (-)
Normal
Trikiasis (-),
entropion (-),
ektropion (-)
Folikel (-),
papil (-),
injeksi (+)
Folikel (-),
papil (-),
injeksi (+)
Injeksi silier (+),
injeksi konjungtiva (+), pdarahan sub konjungtiva (-), chemosis (-)

Keruh,
edema (-),
infiltrat (-),
Sikatriks (+),
Ulkus (+)
tepi tidak beraturan,
kotor, luas hampir seluruh permukaan cornea, lokasi sedikit ke perifer, warna putih keabuan,
lesi satelit (-),
endotelial plaq (-),
fredery edge (-)
Tes sensibilitas (+)
Tes fluoroscein : tidak dilakukan (karena tidak tersedia)
Tes Fistel : tidak dilakukan (karena tidak tersedia)
Dangkal,
Hipopion (-),
hifema (-)
Prolapsus iris (+)

Sulit dinilai,
reflek cahaya langsung (-), reflek cahaya tdk lgsung (-)
Sulit dinilai

Sulit dievaluasi
Sulit dievaluasi
Posisi/Hirsberg
ortofori

Visus

TIO
Supracilia

cilia

Palpebra superior

Palpebra inferior
Blefarospasme : kedipan kelopak yang keras da hilang waktu tidur , renjatan otot orbikularis okuli leopak akibat spasme, letih atau rentan. Merupakan tindakan memejamkan matayang kuat tidak disadari , yang dapat berlangsung beberapa detik sampai beberapa jam,,terjadi bila terdapat :
Erosi kornea, uveitis anterior, glaukoma akut, glaukoma kongenital

Fisura palpebra
Margo palpebra

Konjungtiva tarsal superior

Konjungtiva tarsal inferior

Konjungtiva bulbi

Kornea
Tanda adanya tes fistel
Tes fistel (+)
CoA dangkal
Iris prolaps
TIO menurun

BMD

Iris

Pupil

Lensa

Vitreus
fundus
Gerakan
Sejajar ke segala arah

6/12

Normal per palpasi
Normal, tumbuh teratur, madarosis (-),
sikatriks (-)
Normal,
tumbuh teratur,
trikiasis (-)
Udem (-),
hiperemis (-)
hordeolum (-),
kalazion (-),
blefarospasme (-),
ektropion (-),
entropion (-),
ptosis (-),
lagoftalmus (-)
Udem (-),
hiperemis (-),
Sekret (-) purulen,
hordeolum (-),
kalazion (-),
blefarospasme(-),
ektropion (-),
entropion (-),
ptosis (-),
lagoftalmus (-)
Normal
Trikiasis (-),
entropion (-),
ektropion (-)
Folikel (-),
papil (-),
injeksi (-)
Folikel (-),
papil (-),
injeksi (-)
Tenang,
injeksi silier (-),
injeksi konjungtiva (-), prdarahan sub konjungtiva(-), chemosis (-)
Jernih, edema (-), infiiltrat (-)

Dalam,
hipopion (-),
hifema (-)
Kripti jelas,
normal,
sinekia anterior (-),
sinekia posterior (-)
Bulat, isokor,
Reflek cahaya langsung (+), reflek cahaya tdk lgsung (+)
Jernih,
shadow test (+)
Sulit dievaluasi
Reflex fundus (+),
Papil saraf optik bentuk bulat batas tegas
Retina berwarna kuning orange eksudat (-)
Perdarahan (-)
Sikatriks (-)
AV retina sentralis 2:3
Cup disk ratio 0,3
Refelek fovea (+)

I. RESUME
Diagnosis ditegakan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan status oftalmologi :
Anamnesis
Pasien datang dengan keluhan mata kanan merah dan tidak dapat melihat sejak 14 hari sebelum datang ke poliklinik mata. Pasien mengatakan mata merah, nyeri, berair, pegal, keluar kotoran cair. Pasien mengatakan terkena percikan biji padi pada mata kanan 21 hari SMRS. 1 minggu setelah terkena terdapat putih-putih di mata kanannya yang semakin hari semakin melebar hampir menutupi seluruh warna hitam mata kanannya.
Pemeriksaan fisik :
Pasien tampak sakit sedang, TD 120/70 mmHg, N:82x/menit, S:36,5 , R:20x/m
Pemeriksaan ophtalmologi :
OD OS
Gerakan bola mata
Sejajar ke segala arah
1/tak terhingga, proyeksi baik
Normal per palpasi
Normal
Normal
Edema (+),
hiperemis (+),
blefarospasme (+)  kontaksi otot yang tidak lazim yang ditandai dengan spasme oersisten atau repetitif dari musculus orbiculsris oculi,,bila spasme cenderung kuat makin kuat dan makin sering, berakibat muka meringis dan mata tertutup.
Edema (+),
hiperemis (+),
sekret purulen (+)
Normal
Sekret purulen (+)
Injeksi (+)
Injeksi (+)
Injeksi konjungtiva (+), injeksi silier (+),

Keruh
Sikatriks (+),1. Tidak ada tanda-tanda radang 2.edem kornea (-) 3.permukaan mengkilat , licin, berwarna abu-abu putih 4.batasnya jelas, kadang seperti terpecah
Ulkus (+) , sikatriks (+)
tepi tidak beraturan, kotor, luas hampir seluruh permukaan cornea,
lokasi sedikit ke perifer, warna putih keabuan,
Tes sensibilitas (+)

Dangkal, hipopion (-)
Prolapsus iris
Sulit dinilai

Sulit dinilai
Sulit dievaluasi
Sulit dievaluasi

Hirsberg
ortofori
Visus

TIO
Supracilia
cilia
Palpebra superior

Palpebra inferior

Fisura palpebra
Margo palpebra
Konjungtiva tarsal superior
Konjungtiva tarsal inferior
Konjungtiva bulbi

Kornea

BMD
Iris
Pupil

Lensa
Vitreus
fundus
Gerakan bola mata
Sejajar ke segala arah
6/12

Normal per palpasi
Normal
Normal
Tak ada kelainan

Tak ada kelainan

Normal
Tak ada kelainan
Tak ada kelainan
Tak ada kelainan
Tak ada kelainan

Jernih

Dalam
Kripti jelas
Bulat, isokor, reflek cahaya langsung (+), reflek cahaya tidak langsung (+)
Jernih, shadow test (+)
Sulit dievaluasi
Reflex fundus (+),
Papil saraf optik bentuk bulat batas tegas
Retina berwarna kuning orange eksudat (-)
Perdarahan (-)
Sikatriks (-)
AV retina sentralis 2:3
Cup disk ratio 0,3
Refelek fovea (+)

TIO
Bila terdapat abnormalitas rigiditas okukar, maka akan mempengaruhi ketepatan hasil pengukuran TIO. Untuk mata dengan rigiditas okular (E) yang anbormal, maka hasil tonometri masih perlu dikoreksi. Koreksi dilakukan dengan melakukan cara pengukuran tonometri diferensial yaitu : pengukuran tonometri Schitz menggunakan beban yang berbeda dan hasil pengukuran dilihat pada monogram Friden wald.
Hendaknya selalu dipikirkan beberapa kemungkinan adanya faktor yang dapat menimbulkan penyimpangan hasil pengukuran dalam menginterpretasi nilai TIO dari hasil pengukuran. Bila terdapat hasil yang meragukan, maka harus diteliti beberapa kemungkinan penyebabnya sebagai berikut :
1. Alat tidak ditera terlebih dahulu sebelum digunakan dan ada bagian yang rusak, seperti plunger tidak bergerak bebas karena kotor dsb
2. Penderita tidak tenang karena tidak mendapatkan penjelasan sebelum pemeriksaan sehingga menyebabkan perubahan tonus otot orbikularis dan otot bola mata.
3. Adanya kelainan kornea seperti sikatrik, megalokornea, mikrokornea, edema kornea dan kelainan rigiditas okular lainnya.
4. Pemeriksa tidak mengerjakan tekhnik pengukuran yang baik.
Berdasarkan data hasil penelitian epidemiologi didapatkan bahwa rata-rata nilai TIO adalah kira-kira 16 mmHg dengan standard devisi 3 mmHg. Tekanan intraokular merupakan faktor risiko untuk terjadinya kerusakan saraf optik pada penyakit glaukoma.
Tes-tes untuk ulkus kornea
Tes Fluorosensi :
Memasukan kertas yang mengandung fluoroscein steril ke dalam sakus konjungtiva inferior setelah terlebih dahulu diberi anastesi lokal (pantokain drops)  pasien disuruh mengedip beberapa waktu  kertas fluorosensi dicabut  pada tempat ulkus tampak berwarna hijau
Tes Fistel
Pemeriksaan adanya fistel pada ulkus kornea ,,untuk perforasi atau tidak pemberian fluoroscein  bola mata harus ditekan sedikit untuk melepaskan fibrinnya dari fistel  cairan CoA dapat mengalir keluar mll fistel  seperti air mancur pada tempat ulkus dengan fistel
Tes Placido
Pasien membelakangi sumber cahaya  pemeriksaan menghadap pasien dg jarak pendek , sambik memegang alat placido  dipasang didepan mata pasien  pemeriksa melihat bayangan placido  Didepan
Konjungtiva bulbi
Ulkus kornea ada yg :
non perforata  kalau sembuh dapat timbulkan nebula,makula, leukoma
perforata kalau sembuh dapat timbulkan leukoma adherens dan stafiloma kornea
Karena ada ulkus maka kornea akan menipis , menonjol, timbulkan keraktasi,,,ulkus mendalam sampai membran descemet,,timbulkan descematokelr
Pembagian sikatriks/jaringan parut
1.Nebula  timbul bika ulkus tidak begitu dalam dan tampak sebagain bercak seperti awan yang hanya dapat dilihat dikamar gelap dengan cahaya buatan
2.Makula  terjadi bila ulkus lebih dalam dan tampak sebagai bercak putih yang tampak dikamar biasa
3.Leukoma Didapat bila ulkus lebih dalam lagi dan tampak sebagai bercak putih seperti porselen , yang tampak dari jauh
DD infiltrat dan sikatriks
Infiltrat Sikatriks
1.Ada tanda-tanda radang :
Injeksi perikornea
Lakrimasi
Fotofobia
Blefarospasme
Sakit
2. edema kornea (+)
3. permukaan suram, tidak licin, berwarna abu-abu
4.batasnya tidak jelas ,,oleh karena ada pinggir yang berinti 1. Tidak ada tanda-tanda radang

2.edem kornea (-)
3.permukaan mengkilat , licin, berwarna abu-abu putih
4.batasnya jelas, kadang seperti terpecah

Injeksi konjungtiva Injeksi siliar
Asal arteri konjungtiva posterior
Menyertai kll konjungtiva
Secret mukopurulen/purulenta
Merah difornix mengurang ke limbus
Warna merah muda
Membentuk anastomose (cabang-cabang anastomose)
Berkelok-kelok
Mudah dilihat
Dapat digerakan pada palpasi infeksi
Vasokonstriktor Arteri siliaris anterior
Kll kornea, iris, badan siliar, glaukoma
Tidak ada, lakrimasi (+)
Merah di limbus ke forniks ke forniks berkurang
Merah tua
Tidak ada anastomose (rambut-rambut halus)
Garis-garis halus
Tidak tampak jelas
Tidak dapat digerakan
Tidak kecil karena profunda

Funduskopi
Papil saraf optik : warna, bentuk, batas papil, ukuran (cup-disc ratio)
 Warna : normal, merah kekuningan dengan bagian temporal lebih terang dari bagian nasal
 Bentuk : Bulat
 Batas papil : tegas
 Pada bagian tengah papil terdapat cup fisiologik dengan diameter jorizontal – vertikal cup (3-3 mm) berbanding dengan diameter horizontal – vertikal papil saraf optik (10-10) dinyatakan dengan 0,3 – 0,3
Pembuluh darah retina : warna pembuluh darah arteri tampak merah terang, vena merah tua. Tidak ada selubung pembuluh darah (sheath). Perbandingan kaliber pembuluh arteri/vena (A/V) adalah 2:3 (2/3)
Retina : warna merah oranye, dinilai apakah terdapat kelainan pada retina seperti edema retina , eksudat, perdarahan, sikatriks , abalsio dan lain2
Makula : refleks fovea positif
Dinilai apakah terdapat kelainan pada makula sperti refleks fovea menurun atau negatif atau eksudat di dan sekitar makula

V. DIAGNOSA KERJA
Ulkus kornea perforata e.c suspect jamur OD
DIAGNOSIS BANDING
Endoftalmitis
Ulkus kornea e.c suspek bakteri OD…………………………………………………………..
 Apa dasar2 kita mendiagnosis Ulkus kornea perforasi e.c suspect jamur OD ??
Dari anamnesis :
Pekerjaan pasien : petani ,,dimana kemungkinan ulkus kornea fungi hanya timbul bila kornea kemasukan sangat banyak organisme – suatu peristiwa yang masih mungkin timbul di daerah pertanian,, riwayat terkena percikan biji padi , tanaman : hifa jamur ,,,onset : tidak berlangsung cepat seperti pada bakteri yang progresif,,riwayat pengobatan : sudah diberi obat ,,kemungkinan diberikan obat yg mengandung kortikosteroid,, karena mata yang belum terpengaruh kortikosteroid masih dapat mengatasi masukan organisme sedikit-sedikit
Fungus
P.Oftalmologi :Ulkus fungi itu indolent; nyata ; bercabang-cabang; ditengah-tengah ada tonjolan, dengan infiltrat kelabu, sering dengan hipopion , lipatan descemet, peradangan nyata pada bola mata, ulserasi superfisial, dan didalam stroma ada lesi-lesi satelit (umumnya infiltrat di tempat-tempat yang jauh dari ulserasi ), lesi utama dan juga lesi satelit—merupakan plaq endotel dengan tepian tidak teratur dibawah lesi kornea utama , disertai lesi kamera anterior yang hebat dan abses kornea.

>> pada p.oftal pasien ini tidak didapatkan hipopion apa saja kemungkinan-kemungkinan yang terjadi??
kemungkinan sebelumnya terjadi hipopion (+) bisa terjadi pada saat ini ,,hipopion sulit dinilai ,,karena tertutup oleh ulcus yang sudah terbentuk sikatrik leukoma adherens ,,yang mengarah kemungkinan untuk lesi sudah tidak aktif lagi,, pada pasien ini diberikan sulfas atropin untuk mengantisipasi bila terjadinya peradangan pada CoA yang akan membentuk hipopion,,,dan perlekatan iris ke depan,,,
Kalaupun sebelumnya hipopion bisa saja (-) karena sedang tidak meradang
>> bisakah sikatrik dan ifiltrat terjadi bersamaan??

>> Apa yang meragukan e.c bukan fungus ??

>> Apa dasar mencurigai e.c bakteri dan dijadikan diag banding ??
OS
Normal perpalpasi
Edema (+),
hiperemis (+),
blefarospasme (+)
Edema (+),
hiperemis (+),
sekret purulen (+)
Normal
Sekret purulen (+)
Injeksi (+)
Injeksi (+)
Injeksi konjungtiva (+), injeksi silier (+),
chemosis(+)
Keruh
Sikatriks (+),
Ulkus (+)
tepi tidak beraturan, kotor, luas hampir seluruh permukaan cornea,
lokasi sedikit ke perifer, warna putih keabuan,
Tes sensibilitas (+)
Dangkal, hipopion (-)
Prolapsus iris
Sulit dinilai
Sulit dinilai
Sulit dievaluasi
Sulit dievaluasi TIO
Palpebra superior

Palpebra inferior

Fisura palpebra
Margo palpebra
Konjungtiva tarsal superior
Konjungtiva tarsal inferior
Konjungtiva bulbi
Kornea

BMD
Iris
Pupil
Lensa
Vitreus
Fundus

 Pemeriksaan lab pada fungus :
1. Pemeriksaan mikroskopik dari kerokan kornea dengan KOH 10% akan didapatkan hifa
2. Biakan pada agar Sabouraud pada 37 derajad celcius dari kerokan pinggir ulkus kornea, terlihat jamurnya.
Penyebabnya diduga : candida, aspergilus, nocardia, cephalosporum
Ulkus jamur Ulkus bakteri
Ulkus tidak beraturan
Kotor
Endotelial plaq
Putih keabuan
Lesi satelit
Furtheral aid
Hipopion tidak rata
Batas tidak tegas
Lokasi marginal Ulkus beraturan
Lebih bersih

Hipopion rata
Batas tegas
Lokasi sentral
Natamycin eye drop
Natacen salep (asperg)
Solmazol Cendofenikol
Gentamycin
Mycetin
Air mata buatan
Vitamin A (Cendo lytre dan Cendo fresh)

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Pemeriksaan KOH …………………………………………………………………………………..
 Pemeriksaan lab pada fungus :
1. Pemeriksaan mikroskopik dari kerokan kornea dengan KOH 10% didapatkan hifa
2. Biakan pada agar Sabouraud pada 37 derjad celcius dari kerokan pinggir ulkus kornea, terlihat jamurnya.
• Pemeriksaan gram …………………………………………………………………………………..
 Bakteri yang paling sering dietmukan :
1. Diplokok pneumonia
2. Streptokok hemolitikus
3. Pseudomonas aeroginosa
4. Moraxella liquefaciens
5. Klebsiela pneumoniae
• Pemeriksaan tes resistensi ………………………………………………………………………..
 Pemeriksaan bakteriologik :
Harus dilakukan pemeriksaan hapusan langsung , pembiakan, tes resistensi. Dari pemeriksaan hapusan langsung dapat diketahui kuman penyebabnya.
Bila tidak terdapat kumannya, dari macam-macam sel yang ditemukan , dapat diketahui kira-kira penyebab keratitisnya,
Bila banyak monositnya  diduga akibat virus
- Leukosit PMN kemungkinan akibat bakteri
- Eosinofil , menunjukan radang akibat alergi
- Limfosit  terdapat radang kronis
Dengan melakukan pembiakan dan tes resistensi , dapat diketahui kuman penyebab , juga obatnya yang tepat guna , dengan demikian pengobatan menjadi lebih terarah.
• USG bola mata
VII. PENATALAKSANAAN
Rawat inap
 Untuk memantau pemberian obat , dan untuk mencegah lebih jauh perkembangan ulkus kearah yang lebih buruk
Medikamentosa
Antibiotik :
Ciprofloxaxin eye drop  4gtt dd I
Ciprofloxaxin oral tab  2x500mg
Gentamisin eye drop  4gtt dd I Ab gram negative
 Antibiotik golongan quinolon ,, broad spectrum,,diberikan bila keadaan sudah berat ,, mencegah eye drop ,, komplikasi lebih lanjut (endoftalmitis,,panoftalmitis). Diberikan ab broad spektrum s.d didapat hasil kultur tetes mata diberi setiap jam siang dan malamuntuk beberapa hari pertama dan frekuensinya dikurangi bila sudah tampak perbaikan klinis. Dan kita memonitor respon klinis dari pengobtan dengan antibiotik. Dan kita memonitor respon klinis dari pengobatan dengan antibiotik :
1. Penumpulan infiltrat stroma
2. Berkurangya edema stroma dan plaq inflamasi endotelial
3. Re-epitelisasi
4. Terhentinya penipisan kornea
Glaukon tab  2×1
 Pada pasien ini bisa terjadi kearah Glaukoma akibat kelainan traktus uvealis,Pada uveitis tekanan intraokular biasanya lebih rendah darpada normal karena corpus siliare yang meradang kurang berfungsi dengan baik. Jalinan trabekukar dapat tersumbat oleh sel-sel radang dari CoA ,,disertai edema sekunder,,atau kadang-kadang dalam proses peradangan secara spesifik diarahkan ke sel-sel trabekula (trabekulitis),,Uveitis kronik atau rekuren menyebabkan gangguan permanen fungsi trabekula , sinekia anterior perifer dan kadang-kadang neovaskularisasi sudut , yang semuanya meningkatkan glaukoma sekunder . Seklusi pupil akibat sinekia posterior 360 derajad menyebabkan iris bombe dan glaukoma sudut tertutup akut,,,
 Terapi terutama ditujukan kepada pengontrolan uveitis disertai pemberian terapi glaukoma sesuai keperluan, dan menghindari miotik karena dapat meningkatkan kemungkinan pembentukan sinekia posterior. Terapi jangka panjang , termasuk tindakan bedah , sering perlu dilakukan karena kerusakan jalinan trabekula yang ireversibel.
 Penutupan sudut akut akibat penutupan pupil dapat dipulihkan oleh midriasis intensif tetapi sering memerlukan iridotomi perifer dengan laser atau iridektomi bedah. Setiap uveitis dengan kecendringan pembentukan sinekia posterior harus diterapi dengan midriatikum sewaktu uveitisnya aktif untuk mengurangi risiko penutupan pupil
Sulfas atropin Cendo tropin eye drop  4 gtt dd I
 peringatan efeknya lama sekali , dapat memicu glaukoma ,,, ( pada pasien ini kan ulkus kornea perforata yang dapat terjadi ke arah glaukoma sekunder,,jadi fikirkan efek sampingnya,,perhatikan keluhan pasien bila datang kontrol selanjutnya,, ) merupakan midriatik dan siklopegik ,,, sebagai antimuskarinik melebarkan pupil dan melumpuhkan otot siliaris,,atropin kerjanya lebih lama juga digunakan untuk pengobatan uveitis anterior terutama untuk mencegah sinekia posterior,,,
1. Sebagai dekongestan pada tempat peradangan  kongesti berkurang  nyeri menurun
2. Sebagai midriasil untuk melepaskan sinekia posterior yang ada dan mencegah pembentukan yang baru
3. Sebagai paralisator untuk melumpuhkan otot sfingter pupil + otot siliaris  akomodasi (-)  mata tidak berakomodasi , istirahat  penyembuhan lebih cepat.
Air mata artifisial Lyters 1 gtt/2jam
 Bila mata terasa terasa kering untuk merangsang re-epitelisasi  merangsang jaringan sikatriks untuk sembuh
Non Medikamentosa
Tidak boleh bebat mata
 Mata boleh ditutup dengan kasa steril , untuk mengurangi rangsangan dan memberikan kehangatan supaya luka cepat sembuh ..tetapi tidak boleh bebat mata,,,karena pada pasien ini,,ulkusnya superfisial ,,bahkan kemungkinan mencapai dalam,,,dan bisa terjadi pembentukan sekret yang banyak,,jangan dibalut,,karena ulkus dapat mendalam
Perhatikan keluhan-keluhan ke arah komplikasi
Membersihkan mata dari kotoran
 Membersihkan agar tidak membiarkan fokus infeksi menetap dan tetap menhindari kemungkinan terjadinya infeksi sekunder
Anjuran untuk rencana : keratoplasti
 Indikasi keratoplasti adalah setiap kelainan atau kekruhan kornea yang menyebabkan kemunduran tajam penglihatan , serta memenuhi beberapa kriteria
1. Kemunduran visus yang cukup menganggu pekerjaan penderita
2. Kelainan kornea yang menganggu mental penderita
3. Kelainan kornea yang tidak disertai ambliopia
 Sebagai patokan diambil ketajama penglihatan kurang dari 5/60 . Dikenal beberapa kontraindikasi untuk melakukan keratopalsti seperti :
1. Tidak terdapat proyeksi sina
2. Xerosis dan tidak terdapatnya lapisan air mata
 Bagaimana terapinya ???
1.Pengobatan konstitusi – krn umunya biasanya timbul pd org dengan keadaan umum kurang normal , maka :
– keadaan umumnya harus diperbaiki dengan makanan yang bergizi , udara yang baik, limgkungan yang sehat, pemerian roboransia yang menagdung vitamin A, B kompleks dan C
- Pada ulkus-ulksu yg disebabkan kuman-kuman yang virulen , yang tidak sembuh dengan pengobatan yang biasa dapat diberikan vaksin tifoid 0,1 cc atau sepuluh (10 cc) susu steril yang disuntikam intravena dan hasilnya cukup baik , tetapi jangan melebihi 39,5 derajad celcius . akibat kenaikan suhu tubuh ini diharapkan bertambahnya antibodi dalam badan dan luka menjadi lekas sembuh.
2. Terhadap keadaan lokal
benda asing harus segera harus dihilangkangkan , erosi kornea harus diobati,konjungtivitis dakriostitis harus diobati, infeksi lokal pada hidung, tengorokan, dll harud segera dihilangkan . pada mata diberikan sulfas atropin ( bekerjanya 1-2 minggu)
Untuk menghindari penjalaran ulkus ??
1.Kauterisasi a. Zat kimia (iodine, larutan murni asam karbolik, larutan trikloraasetat , b Dengan panas (lihat cauterisastion ) memakai elektrokauter atau thermophore. Dengan instrumen ini , ujung alatnya yang mengandung panas , disentuhkan pada pinggir ulkus sampai berwarna keputih-putihan
2. Pengerokan epitrl yang sakit dengan spatel atau kuret kalazion
Parasentesa ,, dilakukan kalau pengobatan dengan obat-obatan , tidak menunjukan perbaikan ,,dengan bermaksud mengganti cairan CoA yang lama dengan yang baru ,, yang banyak mengandung antibodi .. dengan harapan luka adapat sembuh .
Penutupan ulkus dengan flap konjungtiva dapat dilakukan dengan tujuan memberikan perlindungan dan nutrisi pada ulkus, untuk mempercepat penyembuhan , yang dapat dilepas kembali , bila luka telah sembuh.
Bolehkah kita memberikan salep mata ??
May’s parera mengatakan , pada pengobatan ulkus kornea sebaiknya tidak diberikan salep mata karena dapat memperlambat penyembuhan dan juga dapat menimbulkan erosi kornea lagi . Menurut pendapatmya juga .
 Perlu kah kita memasang perban pada ulkus kornea??
Perlu pada ulkus kornea yang yang bersih tanpa sekret
Tidak perlu dilakukan pada lesi infektif yang supuratif, karena : dapat menghalangi pengaliran sekret infeksi tersebut , memberikan media yang baik terhadap perkembang biakan kuman penyebabnya .
Terapi “ bila seseorang dengan ulkus kornea , mengalami perforasi spontan , berikan sulfas atropin, antibiotika dan balut yang kuat. Segera masuk tempat tidur dan jangan melakukan gerakan-gerakan .Bila perforasinya disertai dengan prolaps iris dan baru saja , maka padanya dilakukan :
- Iridektomi dari iris yang prolaps
- Iris reposisi
- Kornea dijahit dan ditutup dengan flap konjungtiva
- Beri sulfas atropin dan salep antibiotika. Balut yang kuat.
 Kapan tidak dilakukan iridektomi dari iris yang prolaps??
Bila terjadi perforasi dengan prolapsus iris yang telah berlangsung lama , kita obati seperti ulkus biasa, tetapi prolapsus iris dibiarkan saja, sampai akhirnya sembuh , menjadi leukoma adherens . Antibiotik juga diberikan secara sistemik.
VIII. SARAN
Menganjurkan memakai pelindung mata  Menjaga mata tetap steril
Hindari terkena air untuk sementara waktu, jika terasa kering gunakan tetes mata pelumas untuk menjag amata tetap lembab
 Untuk menghindari dari terkontaminasi infeksi sekunder
Lebih banyak istirahat dan makan yang bergizi
 Untuk memperbaiki keadaan umum
Kontrol setelah 1-2 minggu pengobatan
IX. PROGNOSIS
• Ad vitam : dubia ad bonam……………………………………………………..
• Ad functionam : dubia ad malam……………………………………………………..
• Ad sanationam : dubia ad malam……………………………………………………..
• Ad cosmeticam : dubia ad malam …………………………………………………….


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.